Pernikahan

by - Agustus 11, 2021

Pas aku mau menikah dulu, aku rajin mencari informasi seputar pernikahan. Sebenarnya info yang aku cari lebih ke tentang rumah tangga itu sendiri sih bukan tentang persiapan pernikahan/wedding yang akan berlangsung cuma satu hari itu. Aku nyari informasi di banyak sumber mulai dari nontonin youtube, dengerin podcast, baca-baca artikel bahkan sampai nanya ke temen-temen aku langsung yang sudah menikah. Yang aku tanya pun beragam mulai dari yang sudah ber-rumah tangga hitungan usia bulan bahkan tahun dan jawaban mereka tentu berbeda-beda, intinya dari kisah dan pengalaman mereka aku bisa ngambil kisah dan kesimpulan sendiri-sendiri.

Wedding photo by Pixabay


Aku menikah di usia yang dibilang sudah ngga muda lagi yaitu 27 tahun, ya sebenarnya sih ngga ada istilah nikah muda apa nikah tua ya yang penting nikah pas sudah siap aja, yang aku kurang setuju sih nikah belia.  Nah dari beberapa hasil browsing yang aku cari di internet menikah di usia yang sudah matang itu lebih banyak untungnya terutama untuk orang-orang di luar negeri yang kebanyakan menikah di usia 3O-an diantaranya:

Walaupun usia sudah tua tapi anak-anak masih kecil tapi tidak masalah menghadapi itu karena:

-Malah lebih mature

-Lebih bisa menghadapi tantrumnya anak

-Lebih bisa komunikasi sama anak

-Lebih bisa diskusi sama anak-anak

Menikah itu penting. Menikah itu penyempurna agama

Pernikahan bukan hanya sekedar istri ngurusin suami {masak, beberes, nyuci}, ngurusin kita bisa saling ngurusin. Suami juga bisa mengurus hal-hal di rumah tangga karena kita adalah partner.

Kalau istri lagi ngga bisa nge-cover kerjaannya, suami bisa gantiin kerjaan istri, begitu pula sebaliknya. Jadi seperti Pilot dan Co-Pilot, suami sebagai pilot karena menjadi imam di keluarga dan istri sebagai Co-pilot di keluarga.

Walaupun suami yang membuat keputusan di rumah tangga tapi harus tetap  respect sama istri, ngga merasa ada yang lebih tinggi kedudukannya di rumah tangga, tapi jadikan istri teman diskusi dan bimbing dia.

-Ngga boleh ngeremehin istri

-Under standing each other

-Kompromi

-Belajar untuk mengalah

-Belajar untuk menginspirasi satu sama lain

Kita harus saling ‘’present’’ kalau hanya suami yang make this work di dalam rumah tangga suami akan merasa capek begitu pula sebaliknya dan nanti rumah tangga bisa collapse.

Lebih lagi kalau sudah punya anak, kita harus lebih present dalam mendevelop kids

-Anak bisa tumbuh menjadi orang yang hebat

-Memiliki rasa empati terhadap sesama

-Kind Hearted

Kalau di rumah porsi present di ayah dan si ibu cukup. Anak bisa belajar kepemimpinan, jadi orang yang tegas dan bijaksana dari ayahnya, belajar jadi orang yang kuat dan hebat dari ibunya.

Kita akan seumur hidup sama suami pasti ada up and down, ada rasa bosen. Hal-hal yang tadinya unyu akan berubah jadi biasa aja, dari yang tadinya aku sayang kamu jadi aku butuh kamu. Semua berubah jadi kebiasaan, biasa diskusi dengan suami.

Dia bisa dengerin aku, aku bisa dengerin dia. Bisa tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing, dan improve yang kurang dan tahan yang lebih agar rumah tangga bisa terus berjalan.

Laki-laki yang ideal adalah laki-laki yang tahu gimana cara dia memposisikan diri. Disaat dia tahu dia yang memimpin, tetapi dia pemimpin yang bijaksana. Dia tahu cara menempatkan wanita.

Dua orang dengan pemikiran yang berbeda, latar belakang yang berbeda, cara dibesarkan yang berbeda, dan lain-lain. Disatukan oleh visi misi yang sama untuk membangun sebuah keluarga.

Manusia itu ada kurangnya ada lebihnya, mau sampai kapanpun kalau cari yang sempurna ngga akan pernah aku dapetin karena aku juga banyak kurangnya, kenapa ngga saling mengisi dan hadapi bareng-bareng.

Photo by Pixabay


You May Also Like

4 komentar

  1. Setuju banget, kak. Manusia itu ngga ada yang sempurna dan emang enggak semestinya ya, kita menuntut kesempurnaan dari pasangan kita. Suka dengan artikel kakak soalnya sesuai banget mengenai pernikahan yang harus saling mendukung dan membantu satu sama lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak Ipeh, makasih sudah mampir kak. Iya nih kak, daripada nuntut pasangan kita yang sempurna kenapa ngga saling mengisi aja, karena manusia emang ngga ada yang cocok 100%,adanya "saling" aja. Saling dalam hal apa?? Semua hal :)

      Hapus
  2. Menikah itu wasilah (jalan), tujunnya Lillah. Menurut saya sih. Karena toh ujung-ujungnya semua yang kita lakukan itu tujuannya adalah mendapat ridha-Nya bukan? Jadi, menikah adalah salah satu sarana/media supaya kita makin dekat sama Sang Rabb.

    Mungkin itu juga yang bisa digunakan sebagai tolak ukur kesuksesan pernikahan. Makin dekat sama Rabb kita nggak. Kalau nggak, and then what?

    BalasHapus
  3. Oh mbak Fira sebelum menikah pernah tanya-tanya dulu sama orang gitu ya, kalo aku waktu menikah kayaknya asal menikah saja. 😂

    Memang betul sih, harus punya persiapan yang matang, karena pernikahan kadang naik kadang turun

    BalasHapus

Terima Kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.